Murder in Villa
Syalala.. saya bawa oleh oleh nih..
hehehe :D ini fanfic pertama saya,udah lama sih,lamaa banget malah. Hehehe..
oke lah, kelamaan, cekidot..
Murder in Villa
Disclaimer : Aoyama Gosho
Pairing : Shinichi Kudo dan Ran Mouri
Warning : OOC, missTypo, gaje, abal, sinetron,bikin mual,
saya aja mual baca nih fanfic
Attention : Fic ini hanya fiktif belaka, apabila ada
kesamaan cerita, itu hanya kebetulan.
Don’t like?? Don't Read!!
.
.
Happy Reading~ ^^
“Ran,
liburan musim panas ini kau ada acara tidak?” tanya Sonoko
“Musim
panas? Sepertinya tidak. Memangnya kenapa?”
“Mau
kah kau ikut denganku? Kali ini aku diundang oleh teman ayahku untuk berlibur
di villa nya. Kau juga boleh ajak orang tuamu dan Shinichi ” tawar Sonoko
“Baiklah,
aku akan memikirkannya. Toh liburannya kan baru bulan depan” jawab Ran
“hm..
oke, aku pergi dulu Ran. Bye-bye” seru Sonoko
#VN#
Liburan
kali ini, Ran memang belum mempunyai rencana akan melakukan kegiatan apa. Jadi,
penawaran Sonoko kali ini akan jadi pilihan yang baik. Sesampainya di rumah Ran
pun menceritakan penawaran Sonoko kepada kedua orang tuanya.
“Aku
tak mau ikut jika dia ikut” kata Eri sambil menunjuk ke arah Kogoro
“Huu..
Siapa juga yang mau ikut kalau kau juga ada di sana”
Mereka
pun melakukan kebiasaan mereka yaitu bertengkar. Meskipun sekarang kedua orang
tua Ran sudah tinggal dalam satu rumah, namun kebiasaan bertengkar mereka masih
juga dilakukan. Mereka berdua duduk dengan saling membelakangi.
“Sudahlah,
ayah, ibu, kalian tidak perlu bertengkar lagi, siapapun boleh ikut” lerai Ran
“Baiklah”
seru mereka berdua dan tanpa sengaja dengan bersamaan. Mereka pun saling
membelakangi lagi.
#VN#
3
minggu kemudian..
“Fiuh..
akhirnya liburan musim panas datang juga, sudah lama aku ingin segera berlibur
ke luar kota, penat sudah otakku dengan pelajaran setiap hari” keluh Sonoko
“Sudahlah
Sonoko, ooh ya, apakah penawaranmu masih berlaku? Tentang liburan di villa
teman ayahmu itu” tanya Ran
“Tentu
saja, kau sudah memberitahukan ke orang tuamu kan?”
“Hm..
tapi mungkin hanya ibuku saja yang ikut,tapi biarlah” kata Ran
“Lalu
kau Shinichi?” tanya Sonoko
“Mm??
Baiklah aku ikut” kata Shinichi
Ya,
akhirnya ketiga sahabat itu bisa berlibur bersama di liburan musim panas. Semua
perlengkapan sudah diurus Sonoko. Sonoko memang sahabat yang baik bagi Shinichi
dan Ran.
#VN#
Hari
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mereka bertiga, ditambah dengan ibu Ran, Eri
berangkat ke villa teman ayah Sonoko.
“Yayy!!
Akhirnya kita bisa berlibur bersama lagi!!” seru Sonoko
‘hm..ternyata
Sonoko masih juga begitu’ batin Ran
Perjalanan
itu pun diisi dengan canda tawa. Terutama dari Sonoko, karena, yah..Sonoko
memang begitu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, mereka akhirnya
sampai. Di depan rumah, teman ayah Sonoko, Kenichi Kobayashi, dan putri nya ,
Aimi Kobayashi, sudah menunggu.
“Aa.. Paman..Aimi..”
seru Sonoko sambil berlari
“Akhirnya
kau jadi berlibur juga Sonoko. Paman dan Aimi sangat merindukanmu” kata Kenichi
Kobayashi
“Ya
benar..aku sangat merindukanmu Sonoko”
kata Aimi
“Ooh..iya..kenalkan
ini temanku, ini Shinichi,ini Ran, dan ini adalah ibu Ran, Eri” kata Sonoko
“Shinichi”
“Ran”
“Eri”
Mereka
saling bergantian berjabat tangan. Tampak rasa bahagia dan kerinduan yang sangat
dalam di mata Kenichi,Aimi, dan Sonoko.
“Ayo
masuk,” ajak Aimi
“Sebaiknya
kalian istirahat saja dulu” tawar paman Kobayashi
“Baik
paman!!” seru mereka bertiga kompak
Mereka
bergegas masuk ke kamar masing-masing. Bahkan Eri pun sudah tertidur lelap, karena
kelelahan dalam perjalanan tadi.
Suasana
di villa paman Kobayashi sangat indah,
udara sangat sejuk, bunga-bunga mulai bermekaran, tak terkecuali di taman kecil
keluarga Kobayashi. Semula, villa ini selalu dikunjungi keluarga Kobayashi
setiap minggu, namun semenjak ibu Aimi menderita penyakit kanker, villa ini
hanya dikunjungi ketika liburan musim panas saja. Hanya ada bibi Ayase yang
membersihkan villa ini setiap hari jum’at.
#VN#
‘Suara
apa ini, seperti orang yang bermain piano’ batin Ran
Ran
terbangun karena mendengar suara orang bermain piano, indah sekali, seperti
nyanyian pengantar tidur. Sebenarnya Ran masih ingin dibuai dengan suara ini,
namun rasa penasaran mengalahkan Ran untuk bangkit melihat siapa yang beramain
piano tersebut.
Ternyata
Aimi yang bermain piano. Dia sedang berlatih untuk mengikuti lomba antar kota
di sekolahnya musim dingin nanti.
“Wah..permainan
pianomu indah sekali Aimi” puji Ran
“Benarkah?
Terima kasih” balas Aimi sambil tersenyum
“Aimi
kan memang seorang pianis yang hebat” seru Sonoko yang tiba-tiba berada di
belakang Ran
“Benarkah??
Wah..tidak salah jika aku tadi terbangun karena mendengar nada-nada yang indah,
ku kira tadi hanya imajinasiku. Hahaha” kata Ran
“Aah..terima
kasih semuanya. Aku belum begitu profesional..”
Akhirnya
sore itu diisi dengan mendengarkan Aimi bermain piano. Sungguh indah sekali.
#VN#
Hari ini adalah hari ketiga, atau
hari terakhir mereka ada di villa keluarga Kobayashi. Rencananya mereka akan
melihat Aimi berlatih piano dengan guru lesnya. Selain itu, dua orang sahabat
Aimi, yaitu Umi Garrett dan Emily Bear akan berkunjung untuk membicarakan
tentang perlombaan piano.
Seperti biasanya, di semua tempat
yang mereka kunjungi, pastilah terjadi sebuah kasus. Ya, benar ditempat ini
juga terjadi kasus, kasus pembunuhan tepatnya.
Ran dan Sonoko bermaksud pergi ke
ruang latihan Aimi bersama Shinichi, namun karena Shinichi baru bangun, jadi
Ran dan Sonoko pergi dulu.
“Aaaaaaa . . .!!!!!” jerit Ran
“Ada apa Ran” tanya Sonokop yang
berada di belakangnya.
“Itu..ituu..” jerit Ran sambil
menunjuk ke sebuah jasad yang berada di pojok ruangan
“Hah??? Aiiimiiiii. . . !!!!! Pamaaaannnnn ....!!!!!” jerit Sonoko
yang juga kaget melihat sahabatnya itu dalam keadaan tak bernyawa di pojok
ruangan.
Ya, Aimi, tewas karena dibunuh. Tapi
mereka belum mengetahui siapa yang membunuh Aimi.
Shinichi yang mendengar suara
jeritan itu pun segera berlari mencari arah sumber suara. Shinichi menemukan
Ran dan Sonoko dalam keadaan shock. Tak membutuhkan waktu yang lama, Shinichi
sudah mengetahui bahwa terjadi kasus pembunuhan. Ia menoleh ke segala arah, dan
ketika matanya melihat Aimi di pojok ruangan, ia segera menyelidikinya.
Kobayashi yang sedang membukakan
pintu untuk teman dan guru les Aimi, mendengar sesuatu. Mereka semua pun
bergegas ke ruang latihan pribadi Aimi. Ia menemukan putri semata wayangnya itu
dalam keadaan tak bernyawa di pojok ruangan.
“Aiiiiiiimmmmmmiiiiiiiii. . .
.!!!!!!!!!!” jerit paman Kobayashi. Beliau pun segera mendekati jasad Aimi dan
menangis, saking terkejutnya sampai-sampai ia ia pingsan dan dibawa ke
kamarnya.
Shinichi pun segera menyelidiki.
Terdapat luka berbentuk garis di leher korban. Dugaan Shinichi, korban dibunuh
dengan dijerat lehernya menggunakan benang tipis. Keadaan di ruang latihan
korban juga sangat berantakan. Lembaran-lembaran partitur lagu berserakan di
lantai. Namun, ada satu yang ganjil, terdapat noda darah pada nada mi dan si,
diduga itu adalah pesan kematian korban.
Tidak lama kemudian, datang sejumlah
polisi, yang membantu Shinichi untuk menyelidiki kasus ini.
Shinichi dan polisi mencurigai
beberapa orang karena alibi mereka. Yang pertama adalah teman dan juga pianis,
Umi garrett (16 th). Ia mengaku sehari sebelum korban tewas, ia sempat bertemu
di cafe.
Yang kedua adalah Emiliy Bear (20
th). Ia adalah seorang pianis dan juga komposer muda dari yang baru pulang dari
Amerika. Ia mengatakan bahwa hari ini, ia ada janji dengan korban. Namun,
sebelum bertemu dengan korban, Aimi sudah dikabarkan tewas, dan ia sangat
terkejut dengan berita itu.
Yang ketiga atau terakhir adalah
guru les piano Aimi sendiri. Aria Nishimikado (24th). Hari ini ia memang ada
jadwal les dengan korban.
Suasana di TKP sangat menegangkan.
Ditambah lagi dengan suara tangisan Sonoko. Ia masih tidak percaya bahwa
sahabat yang disayanginya telah meninggal karena dibunuh.
“Aimi..hiks..hiks..” ucap Sonoko
dengan keadaan menangis
“Sudahlah Sonoko, kau tenang saja,
kasus ini paasti akan segera selesai” hibur Ran
Shinichi masih menyelidiki kasus
tersebut. Ia melihat ada salah satu dawai piano yang putus. Diputus tepatnya.
Selain itu, ada noda darah dalam nada mi dan si.
Kini Shinichi sudah mengetahui siapa
dan bagaimana kasus pembunuhan ini terjadi.
.
.
.
“Aku sudah mengetahui siapa
pelakunya”
Suara Shinichi tiba-tiba terdengar
di sebelah piano Aimi. Sontak seluruh ruangan sunyi mendengar kalimat Shinichi.
Mereka berharap-harap cemas. Siapa yang membunuh Aimi Kobayashi, pianis cantik
yang sangat terkenal dengan kelihaiannya memainkan dawai-dawai piano.
Baru saja Ran akan bertanya siapa
pelakunya, tapi Shinichi sudah meneruskan kalimatnya.
“Pelakunya adalah orang yang juga
dekat dengan korban. Mungkin karena kehebatan korban dalam bermain piano,
posisi korban terancam. Ya, bukankah Aimi akan mengikuti lomba piano musim
dingin nanti kan? Dan di brosur yang aku baca tertulis, bahwa pemenang akan diorbitkan
menjadi pianis terkenal di luar negeri dan akan mengisi soundtrack film ” kata
Shinichi
“Aku sungguh tidak menyangka kalau
dia adalah pelakunya, tapi apa boleh buat?”
Seluruh ruangan bertambah sunyi.
Nada menggantung terdengar jelas di kalimat Shinichi, sungguh membuat semua
orang penasaran.
.
.
Kalimat andalan Shinichi pun keluar.
“Kebenaran hanya ada satu”
.
.
“Jadi pelakunya adalah. .
.
.
..KAU!!” kata Shinichi sambil menunjuk salah
satu tersangka yaitu Emiliy Bear.
Orang yang ditunjuk itu pun kaget,
namun ia hanya menampilkan ekspresi tersebut beberapa detik saja.
“Hahaha..Bagaimana bisa aku yang
jadi pelakunya, Aimi adalah teman dekatku sendiri, sahabatku tepatnya. Hari ini
aku memang ada janji dengannya, namun aku datang ketika Aimi sudah tak
bernyawa, bahkan aku kesini bersama dengan Umi, bibi Eri, dan juga Aria,
bagaimana bisa aku yang menjadi pelakunya” elak Emiliy
“Ya, benar. Tapi lihatlah pesan
korban. Ada noda darah dalam nada mi dan si. Sedangkan dalam nada oktaf, mi=E,
dan si=B. Sedangkan disini yang mempunyai inisial EB hanyalah dirimu. Selain
itu kau membunuh dengan menjerat leher korban menggunakan dawai piano, karena
salah satu dawai piano hilang, dan bekas luka di leher korban berbentuk garis.
Kalau mengapa kau membunuh Aimi aku tidak tau, mungkin karena fakta yang aku
sebutkan tadi, atau kau punya masalah lain dengan korban” jelas Shinici dengan
santai
“Haha..ternyata kau jeli juga. Tapi
aku lupa, kau kan memang detektif yang terkenal itu. Ya, akulah yang membunuh
Aimi!! Aku membunuhnya karena aku tahu, Aimi mempunyai bakat dalam bermain
piano, melebihi aku. Posisiku sebagai komposer dalam soundtrack film terkenal
akan digantikan oleh Aimi. Oleh karena itu aku membunuhnya, aku membunuhnya
ketika belum ada orang di ruangan ini, tepatnya ketika Aimi masuk ke ruangan
ini sendiri. Setelah itu aku keluar dan masuk bersama mereka. Jadi, selamat
untuk kau bocah detektif, karena kau telah mengetahui siapa yang membunuh
Aimi!!”
Emiliy Bear menjelaskan dengan
teriakan yang menggema ke seluruh ruangan ini. Nada frustasi tampak jelas di
kalimatnya. Entah itu benar atau tidak, Ran seperti melihat butiran air
meluncur di pipi halus nya.
Polisi yang mendengar dan meyetujui
penjelasan Shinichi pun segera memborgol dan membawa pergi Emiliy. Dan sekarang
jasad Aimi sedang di otopsi di Rumah Sakit terdekat.
Rumah ini sepi, hanya ada suara
tangisan dari Sonoko dan Kenichi Kobayashi yang sudah sadar. Mungkin ini
terakhir kalinya bagi Kenichi Kobayashi berada di villa ini. Sudah dua kali,
villa ini menjadi saksi bisu peristiwa meninggalnya orang yang disayangi
Kenichi Kobayashi. Istri dan putrinya. Dua orang yang sangat disayanginya.
‘mungkin villa ini harus kujual atau
entahlah aku masih belum bisa menerima keadaan ini’ batin Kenichi Kobayashi
#VN#
Malam ini, Sonoko dan rombongannya
berencana pulang.
“Paman..hiks...hiks..”kata Sonoko
sambil menghambur ke pelukan Kenichi Kobayashi.
“Paman, yang sabar ya, semua orang
disini merasa kehilangan Aimi” hibur Sonoko
“Aku pulang dulu . .” kata Sonoko
“Baiklah, hati- hati di jalan” ucap
Kenichi Kobayashi dengan berat hati
Mereka pun pulang. Hari ini, mungkin
hari yang tak terlupakan bagi mereka semua. Liburan yang berawal dengan
kebahagiaan namun berakhir dengan tangisan.
#VN#
Mereka harus berjalan dulu untuk
sampai ke jalan raya, dimana jemputan mereka berada. Dalam keheningan malam
itu, Shinichi dan Ran berjalan berdampingan.
“Kasihan Aimi..Semoga ia tenang di
sana” kata Ran
“Ya benar, kadang keadaan yang
terpaksa membuat kita berbuat seperti itu. Tinggal bisa atau tidaknya kita
mengendalikan nafsu dan rasa egois. Mungkin Emiliy berpikir hanya dengan cara
itu ia tetap bisa bertahan” ucap
Shinichi
“Hmm. . .Malam ini indah sekali
Shinichi”
“ya benar..” balas Shinichi sambil
memandang ke arah wajah Ran yang damai.
‘Aku mencintaimu’ ucap Shin dalam
hati.
Memang malam ini langit indah
sekali, bersih, tidak ada satupun awan yang berniat menutupi indahnya langit
malam ini,yang ada hanya bintang, bulan sabit, dan langit yang cerah. Udara
juga sejuk, seperti malam-malam sebelumnya.
“Aku berharap setiap hari langit akan
selalu seperti ini” harap Ran
“Mungkin jika besok malam dan
malam-malam selanjutnya kulalui bersamamu, aku akan selalu berdoa, semoga
langit ini tak kan pernah berganti” ucap Shinichi
“Maksudnya?” tanya Ran dengan
ekspresi bingung
“Sudahlah, lupakan saja, ayo cepat,
ibumu dan Sonoko sudah sampai sana” ajak Shinichi
“Aku tak mau pulang kalau kau tidak
menjelaskannya Shinichi” kata Ran dengan ekspresi kesal
“Argh, sudahlah. Kau mau pulang
tidak? ” ucap Shinichi sambil menarik tangan Ran agar mau berjalan.
Ran tidak bisa melakukan apapun
karena cengkeraman Shinichi sangatlah kuat. Gadis jago karate itu hanya bisa
mengeluarkan ekspresi kesal.
‘Tunggulah pembalasanku Shinichi’
batin Ran
Malam itu langit yang bersih,
bintang dan bulan yang bersinar terang, menjadi saksi bisu peristiwa ini. Dua
orang yang saling mencintai, menyayangi, dan berusaha saling melindungi. Ran
dan Shinichi
#VN#
Tanpa Ran ketahui, 24 jam kemudian
Shinichi telah berubah menjadi Conan Edogawa. Meninggalkannya lagi . . untuk
sementara.
-OWARI-
a/n : Akhirnya selesai juga,
sebenernya nih fic uda selesai lamaa banget, Cuma belom berani nge-post, tapi
akhirnya dengan kekuatan sepenuh hati, aku beraniin post nih fic, daripada
jamuran sihh.. Hehehe, silakan protes saya, ada yang uda bosen sama ShinRan?
Gomen... gomen sekali, saya tau kok,, fanfic nya jelekk.. *nangis di pojokan
blog* hahaha :D silakan review senpai,
saya butuh saran n kritik kalian semuaa *bungkuk bungkuk*.
Segini dulu dehh..
Jaa~ J






0 komentar:
Posting Komentar