Lily in Tropical Land
Lily in Tropical Land
Disclaimer : Aoyama Gosho
Pairing : Shinichi Kudo dan Ran Mouri
Warning : OOC, missTypo, gaje, abal, sinetron,bikin mual,
saya aja mual baca nih fanfic
Attention : Fic ini hanya fiktif belaka, apabila ada
kesamaan cerita, itu hanya kebetulan.
Don’t like?? Don’t Read *tapi read aja deh :p*
Happy Reading~ ^^
‘Pusing sekali kepalaku’, batin Ran
dalam hati.
Pagi itu terasa sangat dingin bagi Ran,
meskipun penghangat ruangan sudah dinyalakan mulai dari tadi malam di kamar
kecil yang tertata rapi itu. Ia menarik selimut hingga mencapai dagu dan
berguling diatas tempat tidur. Ia tak ingin pergi kemanapun. Seluruh tubuhnya
terasa ngilu.
Aku tidak boleh seperti ini. Aku
harus bersemangat. Mungkin hari ini adalah salah satu hari spesialku. Ran,
ganbatte!!
Memang hari ini adalah salah satu
hari yang sudah lama dinantikan oleh Ran, karena malam ini Shinichi mengajaknya
ke taman bermain Tropical Land. Selain itu ia tidak perlu repot-repot membujuk
ayahnya untuk memberikan izin pergi ke Tropical Land pada malam hari bersama
Shinici. Entah mengapa, ayahnya langsung memberikan izin.
Gadis itu pun segera beranjak dari
tempat tidur dan bergegas untuk mandi. Obat flu pun sudah diminumnya, karena
mungkin ia terkena gejala flu.
Pukul sepuluh pagi, ia dan Sonoko,
pergi belanja. Sebenarnya Sonoko hanya menemani, karena Ran hanya membeli bahan
untuk membuat kue. Ya, kue spesial untuk Shinichi.
Dalam perjalanan pulang, kedua
sahabat karib itu melihat toko bunga yang baru saja buka di depan stasiun
Beika. Ran mengajak Sonoko ke sana.
Aroma wangi bunga yang berbeda jenis
terpadu ketika mereka memasuki toko itu. Bunga-bunga di tata sedemikian rupa
memenuhi toko mungil itu. Tak kalah berbeda dengan suasana toko tersebut,
penjaga toko tersebut juga memakai baju dengan motif bunga-bunga.
“Irrashaimase” ucap penjaga toko
tersebut.
Ran membalasnya dengan senyuman.
Ia dan Sonoko langsung menuju
sekumpulan mawar yang berwarna-warni. Ran mengamati sekumpulan bunga itu sambil
tersenyum-senyum.
“Aahh, kau pasti membayangkan bocah
detektif itu memberimu mawar merah ini kan?” suara Sonoko membuyarkan lamunan
Ran.
Tak dapat dipungkiri, ia memang ingin
Shinichi memberinya mawar merah yang terkenal sebagai lambang cinta itu. Namun
di depan Sonoko, ia tidak mengakuinya.
“Tidak. Aku tidak membayangkan hal
itu. Lagipula aku tidak suka mawar merah”, ia pun berlalu dan pergi melihat
bunga-bunga yang lain.
Langkahnya terhenti di depan
sekumpulan bunga lili. Entah mengapa, ia tiba-tiba tertarik dengan bunga
tersebut. Bunga itu sederhana namun indah. Warna putihnya memberikan kesan
tersendiri. Bunga itu tidak wangi, namun entah mengapa, aromanya memberikan sensasi
aneh dalam pikiran Ran. Ia merasa ingin memiliki bunga tersebut.
“Ran, kau tidak bermaksud membeli
bunga tersebut kan?”, tegur Sonoko.
“Loh, memang kenapa Sonoko jika aku
membelinya. Aku rasa tidak ada yang salah dengan bunga ini”
“Itu bunga lambang perpisahan. Untuk
apa kau memilikinya?”
“Aku tahu, tapi ini bukan berarti
akan mendatangkan perpisahan. Ini kan hanya simbol, bukan benda keramat atau
apa lah itu”
“Entahlah, tapi rasanya mengerikan.
Sudahlah terserah kau saja”
“Ya, ya. Memang terserah aku. Aku
mau membeli ini,”
“Bu, aku mau membeli ini” ucap Ran
kepada sang penjaga toko.
Penjaga toko itu bergegas membungkus
bunga lili itu.
“Perpisahan itu memang menyedihkan,
bahkan sangat menyedihkan. Namun perpisahan akan selau terjadi dalam semua hal”
kata penjaga toko itu.
“Aku membelinya bukan untuk
perpisahan. Aku hanya ingin memilikinya” sanggah Ran.
“Oh maaf, kukira kau akan menghadiri
sebuah acara perpisahan”
Setelah dibungkus rapi, Ran membayar
bunga tersebut.
“Semoga kau beruntung” kata penjaga
toko itu ketika mereka akan pergi.
Semoga kau beruntung. Bukan kalimat yang sering diucapkan ketika meninggalkan toko. Kalimat itu
terus berputar-putar dalam benak seorang Ran Mouri.
Siang hingga sore hari, Ran terus
berkutat di dapur membuat kue coklat. Dapur yang semula rapi, kini menjadi
berantakan, bercak-bercak putih dan coklat pun tak luput di celemek dan dapur
Ran.
Wangi coklat sudah tercium di
seluruh ruangan ini, menandakan kue buatan Ran sudah matang. Ran pun
memotong-motong kue tersebut, dan memasukannya ke dalam kotak.
“KRIIINNGGG.....” telepon berbunyi.
Ran berharap itu adalah telepon dari Shinichi. Ya, hanya Shinichi yang
diinginkan Ran saat ini. Namun ternyata bukan, bukan Shinichi yang menelepon
Ran, melainkan teman sekelas Ran yang menanyakan tugas matematika. Ran yang
saat itu masih membawa kotak yang berisi kue, itu pun meletakkan kue tersebut
di samping vas bunga lili. Ran pun pun menjelaskan soal tersebut di telepon.
Terjadi peristiwa aneh dengan bunga
lili tersebut. Tiba-tiba salah satu kelopak bunga lili tersebut jatuh di atas
kotak yang berisi kue buatan Ran yang memang belum sempat ditutup.
ooOoo
Setelah selesai bermain, mereka
duduk di salah satu bangku taman bermain tersebut. Dengan wajah merona, Ran
memberikan kotak kue tersebut.
“Shinichi, ini..” kata Ran sambil
menyodorkan kotak kue tersebut.
“Kau sendiri yang membuatnya Ran?”
tanya Shinichi sambil membuka kotak kue tersebut.
“Hah lili??kau tidak bermaksud
mengucapkan perpisahan kan?” tanya shinichi dengan wajah shock.
Ran menjawab dengan wajah bingung.
“Eh?? Lili?? Ooh..mungkin tadi ketika aku menaruhnya di dekat vas lili, bunga
itu jatuh.”
“Oohh.. ya sudah kalau begitu” jawab
Shinichi yang sudah tidak mempermasalahkan bunga itu lagi.
“Hei, Ran, kue buatanmu enak juga!”
puji Shinichi.
“Aah benarkah?? Terima kasih” jawab
Ran dengan wajah yang sedikit blushing
“Swear” jawab Shinichi dengan mulut
penuh dengan kue.
Mereka makan dalam diam. Shinichi
sudah tidak mempermasalahkan soal lili tersebut. Tiba-tiba Shinichi bangkit
dari tempat duduknya.
“Mau kemana kau Shinichi?” tanya Ran
“Aku akan beli minuman, kau mau?”
“Tidak usah, aku bawa kok, ini..”
jawab Ran sambil menyodorkan sebotol air mineral.
“Aah..Tidak, aku sedang ingin
membeli kopi. Kau mau??”
“Mm..boleh..” seru Ran.
“Baiklah, aku pergi dulu, kau tunggu
di sini saja, jangan kemana-mana ya..” pesan Shinichi.
“Oke..”
Entah mengapa tiba-tiba perasaan itu
muncul kembali. Perasaan takut,sedih, seolah-olah Shinichi akan pergi, pergi
yang sangat jauh,dan lama. Meninggalkan dirinya sendiri. Dan entah mengapa Ran
tiba-tiba bangkit dari kursi taman tersebut dan berseru memanggil Shinichi.
“SHINICHI. . . !!!” seru Ran
Dalam jarak yang belum terlalu jauh,
Shinichi yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.
“Apaa??” tanya Shinichi
“Ah, bukan apa-apa. Hati-hati ya”
Ada apa dengan gadis itu, pikir
Shinichi. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
ooOOoo
Lama sekali Shinichi, batin Ran. Ia
sudah menunggu selama setengah jam, namun Shinichi belum juga kembali. Perasaan
itu muncul kembali, perasaan takut kehilangan, akankah Shinichi meninggalkannya.
Tidak, tidak mungkin Shinichi seperti itu. Kalau mereka berangkat bersama,
pulang juga pasti bersama. Ya pasti, itu pasti, pikir Ran.
Satu jam..
Dua jam..
Hingga akhirnya Ran memutuskan untuk
pulang, karena hari sudah malam dan taman hampir ditutup. Sepenjang perjalanan
Ran hanya bisa menangis dan menangis,mengingat Shinichi yang tiba-tiba
menghilang entah kemana.
Ia berharap Shinichi sudah
menunggunya di rumah, namun hingga esok hari Shinichi tidak ada di rumah. Jika
suatu saat Shinichi kembali, ia akan menangis, memeluk, dan memukul detektif
itu. Ia akan marah,sangat marah bahkan, karena tiba-tiba Shinichi menghilang
dalam waktu yang tidak singkat tanpa memberi kabar.
Berhari-hari sudah Shinichi hilang,
dan keadaan Ran pun masih sama dengan pertama kali ketika Shinichi hilang,
mungkin malah bertambah parah.Dan tanpa Ran sadari, Shinici selalu ada di
sampingnya, bersamanya,menjaganya, dalam wujud Conan Edogawa.
Conan POV
“Aku akan selalu melindungimu, dan
aku akan segera kembali. Tunggulah aku Ran. Aku akan mewujudkan semua yang
kuinginkan dalam hidup bersamamu. Hanya bersamamu. Ran Mouri”
-Melindungi seseorang yang berharga bagimu, tidak harus
dengan kehadiranmu di sisinya,karena mungkin kehadiranmu justru membuatnya
dalam bahaya. Di mana pun kau berada, kau selalu dapat melindungi orang yang berharga
bagimu, melindunginya dengan tangan Tuhan-
-OWARI-
a/n :
Awakaka XD sumpah, ngehe nih fanfic, ya, maklum lah, ini fanfic
saya yang paling pertamaaaa bangetttttt -__-, yah, sekitar SD lah,, jadi maklum
ya, oiya! Kalo misal nya kalian mual sama nih fanfic, muntah aja ya, aku juga
mual kok... *ngeles*
Satu lagii.. saya butuh kritik n saran senpai semuaa..
*bungkuk*
Ah, udah ah.. segini aja.. kapan2 lagi ya...
Jaa~ J





