Rabu, 20 Maret 2013

Lily in Tropical Land


Lily in Tropical Land


Disclaimer : Aoyama Gosho
Pairing : Shinichi Kudo dan Ran Mouri
Warning : OOC, missTypo, gaje, abal, sinetron,bikin mual, saya aja mual baca nih fanfic
Attention : Fic ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan cerita, itu hanya kebetulan.
Don’t like?? Don’t Read *tapi read aja deh :p*

Happy Reading~ ^^


‘Pusing sekali kepalaku’, batin Ran dalam hati.
 Pagi itu terasa sangat dingin bagi Ran, meskipun penghangat ruangan sudah dinyalakan mulai dari tadi malam di kamar kecil yang tertata rapi itu. Ia menarik selimut hingga mencapai dagu dan berguling diatas tempat tidur. Ia tak ingin pergi kemanapun. Seluruh tubuhnya terasa ngilu.
Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus bersemangat. Mungkin hari ini adalah salah satu hari spesialku. Ran, ganbatte!!
Memang hari ini adalah salah satu hari yang sudah lama dinantikan oleh Ran, karena malam ini Shinichi mengajaknya ke taman bermain Tropical Land. Selain itu ia tidak perlu repot-repot membujuk ayahnya untuk memberikan izin pergi ke Tropical Land pada malam hari bersama Shinici. Entah mengapa, ayahnya langsung memberikan izin.
Gadis itu pun segera beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi. Obat flu pun sudah diminumnya, karena mungkin ia terkena gejala flu.
Pukul sepuluh pagi, ia dan Sonoko, pergi belanja. Sebenarnya Sonoko hanya menemani, karena Ran hanya membeli bahan untuk membuat kue. Ya, kue spesial untuk Shinichi.
Dalam perjalanan pulang, kedua sahabat karib itu melihat toko bunga yang baru saja buka di depan stasiun Beika. Ran mengajak Sonoko ke sana.
Aroma wangi bunga yang berbeda jenis terpadu ketika mereka memasuki toko itu. Bunga-bunga di tata sedemikian rupa memenuhi toko mungil itu. Tak kalah berbeda dengan suasana toko tersebut, penjaga toko tersebut juga memakai baju dengan motif bunga-bunga.
“Irrashaimase” ucap penjaga toko tersebut.
Ran membalasnya dengan senyuman.
Ia dan Sonoko langsung menuju sekumpulan mawar yang berwarna-warni. Ran mengamati sekumpulan bunga itu sambil tersenyum-senyum.
“Aahh, kau pasti membayangkan bocah detektif itu memberimu mawar merah ini kan?” suara Sonoko membuyarkan lamunan Ran.
Tak dapat dipungkiri, ia memang ingin Shinichi memberinya mawar merah yang terkenal sebagai lambang cinta itu. Namun di depan Sonoko, ia tidak mengakuinya.
“Tidak. Aku tidak membayangkan hal itu. Lagipula aku tidak suka mawar merah”, ia pun berlalu dan pergi melihat bunga-bunga yang lain.
Langkahnya terhenti di depan sekumpulan bunga lili. Entah mengapa, ia tiba-tiba tertarik dengan bunga tersebut. Bunga itu sederhana namun indah. Warna putihnya memberikan kesan tersendiri. Bunga itu tidak wangi, namun entah mengapa, aromanya memberikan sensasi aneh dalam pikiran Ran. Ia merasa ingin memiliki bunga tersebut.
“Ran, kau tidak bermaksud membeli bunga tersebut kan?”, tegur Sonoko.
“Loh, memang kenapa Sonoko jika aku membelinya. Aku rasa tidak ada yang salah dengan bunga ini”
“Itu bunga lambang perpisahan. Untuk apa kau memilikinya?”
“Aku tahu, tapi ini bukan berarti akan mendatangkan perpisahan. Ini kan hanya simbol, bukan benda keramat atau apa lah itu”
“Entahlah, tapi rasanya mengerikan. Sudahlah terserah kau saja”
“Ya, ya. Memang terserah aku. Aku mau membeli ini,”
“Bu, aku mau membeli ini” ucap Ran kepada sang penjaga toko.
Penjaga toko itu bergegas membungkus bunga lili itu.
“Perpisahan itu memang menyedihkan, bahkan sangat menyedihkan. Namun perpisahan akan selau terjadi dalam semua hal” kata penjaga toko itu.
“Aku membelinya bukan untuk perpisahan. Aku hanya ingin memilikinya” sanggah Ran.
“Oh maaf, kukira kau akan menghadiri sebuah acara perpisahan”
Setelah dibungkus rapi, Ran membayar bunga tersebut.
“Semoga kau beruntung” kata penjaga toko itu ketika mereka akan pergi.
Semoga kau beruntung. Bukan kalimat yang sering diucapkan ketika meninggalkan toko. Kalimat itu terus berputar-putar dalam benak seorang Ran Mouri.
Siang hingga sore hari, Ran terus berkutat di dapur membuat kue coklat. Dapur yang semula rapi, kini menjadi berantakan, bercak-bercak putih dan coklat pun tak luput di celemek dan dapur Ran.
Wangi coklat sudah tercium di seluruh ruangan ini, menandakan kue buatan Ran sudah matang. Ran pun memotong-motong kue tersebut, dan memasukannya ke dalam kotak.
“KRIIINNGGG.....” telepon berbunyi. Ran berharap itu adalah telepon dari Shinichi. Ya, hanya Shinichi yang diinginkan Ran saat ini. Namun ternyata bukan, bukan Shinichi yang menelepon Ran, melainkan teman sekelas Ran yang menanyakan tugas matematika. Ran yang saat itu masih membawa kotak yang berisi kue, itu pun meletakkan kue tersebut di samping vas bunga lili. Ran pun pun menjelaskan soal tersebut di telepon.
Terjadi peristiwa aneh dengan bunga lili tersebut. Tiba-tiba salah satu kelopak bunga lili tersebut jatuh di atas kotak yang berisi kue buatan Ran yang memang belum sempat ditutup.

ooOoo

Setelah selesai bermain, mereka duduk di salah satu bangku taman bermain tersebut. Dengan wajah merona, Ran memberikan kotak kue tersebut.
“Shinichi, ini..” kata Ran sambil menyodorkan kotak kue tersebut.
“Kau sendiri yang membuatnya Ran?” tanya Shinichi sambil membuka kotak kue tersebut.
“Hah lili??kau tidak bermaksud mengucapkan perpisahan kan?” tanya shinichi dengan wajah shock.
Ran menjawab dengan wajah bingung. “Eh?? Lili?? Ooh..mungkin tadi ketika aku menaruhnya di dekat vas lili, bunga itu jatuh.”
“Oohh.. ya sudah kalau begitu” jawab Shinichi yang sudah tidak mempermasalahkan bunga itu lagi.
“Hei, Ran, kue buatanmu enak juga!” puji Shinichi.
“Aah benarkah?? Terima kasih” jawab Ran dengan wajah yang sedikit blushing
“Swear” jawab Shinichi dengan mulut penuh dengan kue.
Mereka makan dalam diam. Shinichi sudah tidak mempermasalahkan soal lili tersebut. Tiba-tiba Shinichi bangkit dari tempat duduknya.
“Mau kemana kau Shinichi?” tanya Ran
“Aku akan beli minuman, kau mau?”
“Tidak usah, aku bawa kok, ini..” jawab Ran sambil menyodorkan sebotol air mineral.
“Aah..Tidak, aku sedang ingin membeli kopi. Kau mau??”
“Mm..boleh..” seru Ran.
“Baiklah, aku pergi dulu, kau tunggu di sini saja, jangan kemana-mana ya..” pesan Shinichi.
“Oke..”
Entah mengapa tiba-tiba perasaan itu muncul kembali. Perasaan takut,sedih, seolah-olah Shinichi akan pergi, pergi yang sangat jauh,dan lama. Meninggalkan dirinya sendiri. Dan entah mengapa Ran tiba-tiba bangkit dari kursi taman tersebut dan berseru memanggil Shinichi.
“SHINICHI. . . !!!” seru Ran
Dalam jarak yang belum terlalu jauh, Shinichi yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh.
“Apaa??” tanya Shinichi
“Ah, bukan apa-apa. Hati-hati ya”
Ada apa dengan gadis itu, pikir Shinichi. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu.
ooOOoo
Lama sekali Shinichi, batin Ran. Ia sudah menunggu selama setengah jam, namun Shinichi belum juga kembali. Perasaan itu muncul kembali, perasaan takut kehilangan, akankah Shinichi meninggalkannya. Tidak, tidak mungkin Shinichi seperti itu. Kalau mereka berangkat bersama, pulang juga pasti bersama. Ya pasti, itu pasti, pikir Ran.
Satu jam..

Dua jam..

Hingga akhirnya Ran memutuskan untuk pulang, karena hari sudah malam dan taman hampir ditutup. Sepenjang perjalanan Ran hanya bisa menangis dan menangis,mengingat Shinichi yang tiba-tiba menghilang entah kemana.
Ia berharap Shinichi sudah menunggunya di rumah, namun hingga esok hari Shinichi tidak ada di rumah. Jika suatu saat Shinichi kembali, ia akan menangis, memeluk, dan memukul detektif itu. Ia akan marah,sangat marah bahkan, karena tiba-tiba Shinichi menghilang dalam waktu yang tidak singkat tanpa memberi kabar.
Berhari-hari sudah Shinichi hilang, dan keadaan Ran pun masih sama dengan pertama kali ketika Shinichi hilang, mungkin malah bertambah parah.Dan tanpa Ran sadari, Shinici selalu ada di sampingnya, bersamanya,menjaganya, dalam wujud Conan Edogawa.
Conan POV
“Aku akan selalu melindungimu, dan aku akan segera kembali. Tunggulah aku Ran. Aku akan mewujudkan semua yang kuinginkan dalam hidup bersamamu. Hanya bersamamu. Ran Mouri”

-Melindungi seseorang yang berharga bagimu, tidak harus dengan kehadiranmu di sisinya,karena mungkin kehadiranmu justru membuatnya dalam bahaya. Di mana pun kau berada, kau selalu dapat melindungi orang yang berharga bagimu, melindunginya dengan tangan Tuhan-

-OWARI-

a/n :
Awakaka XD sumpah, ngehe nih fanfic, ya, maklum lah, ini fanfic saya yang paling pertamaaaa bangetttttt -__-, yah, sekitar SD lah,, jadi maklum ya, oiya! Kalo misal nya kalian mual sama nih fanfic, muntah aja ya, aku juga mual kok... *ngeles*
Satu lagii.. saya butuh kritik n saran senpai semuaa.. *bungkuk*
Ah, udah ah.. segini aja.. kapan2 lagi ya...
Jaa~ J

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 My Sunshine